TAJUK BERITA APIK MENUAI POLEMIK

Klarifikasi Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, soal buka puasa bersama atau bukber diperbolehkan tetapi tidak boleh ngobrol. Meskipun diperbolehkan buka puasa bersama namun tetap menerapkan protokol kesehatan, salah satunya dengan cara tidak diperbolehkan berbicara satu sama lain. “Saat menyantap makanan tentunya tidak berbicara untuk menghindari adanya droplet,” kata Wiku saat dihubungi Kompas.com, Rabu (30/3/2022). Droplet tersebut merupakan salah satu jalan penyebab penularan virus.

Saat berita tersebut dipublikasi diberbagai platform media sosial, hampir semua pembacanya memberi tanggapan negatif. Ada yang beranggapan kebijakan tersebut ngawur, tidak masuk akal, bahkan ada yang dengan percaya dirinya mengecam pihak terkait. Pancaran lampu yang apik dibalik tajuk berita menarik, terhalang oleh opini liar pembaca yang bahkan tidak rampung membaca. 

Tajuk berita itu menjadi magnet yang memikat pembaca, meski terpikat untuk menghujat. Menurut saya, kalau diartikan dalam konteks sederhana, menyangkut etika ketika makan ya memang makan tidak boleh sambil bicara. Terlebih setelah mendapat pelurusan dari pihak terkait, Wiku. Beliau mengatakan, usai menyantap makanan dan kembali menggunakan masker, tentunya warga diperbolehkan berbicara satu sama lain guna menjalin silaturahmi selama bulan Ramadhan.
Jadi, yang tidak boleh bicara adalah ketika kita sedang menyantap makanan karena hal tersebut dapat menimbulkan droplet, yang menjadi jalan penularan virus. 

Rahasia umum, Indonesia belum pulih dari pandemi meski kasusnya sudah mulai menurun. Sebab urgensi tersebut, jadi lebih baik kalau kita tidak abai dengan protokol kesehatan. Hingga saat ini pun masyarakat masih diwajibkan pakai masker, belum bisa pergi-pergi bebas menampakkan muka. Kemana-mana kalau ingin masuk ke pusat perbelanjaan, sekolah, dan tempat umum lainnya masih di cek suhu tubuh dan dianjurkan cuci tangan atau memakai handsanitizer, bahkan masih ditanya-tanya juga sudah vaksin berapa kali. Hal-hal diatas pertanda jika Indonesia belum benar-benar lepas dari pandemi. Efek pandemi saat ini memang tidak seganas dulu, tetapi bukan berarti yang sekarang bisa dianggap sepele. Sebab efek berat atau ringan, yang namanya terjangkit virus tetep saja berbahaya.

Belajar dari sini, dapat disimpulkan bahwa Warga Indonesia masih darurat literasi.  Ironisnya, meski minat baca Warga Indonesia rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Sebagai contoh adalah aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

Menakjubkannya, masyarakat Indonesia sangat cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek di media sosial, berlomba-lomba memberi opini. Berpendapat memang tidak dilarang, bahkan kebebasan berpendapat masuk dalam HAM. Bukan berpendapatnya yang menjadi masalah, tetapi langkah dalam memberi pendapatnya yang seharusnya diperbaiki. Sebaiknya, sebagai netizen yang baik, harus crosschek lebih lanjut ketika ada berita yang dipublikasikan, dibaca sampai tuntas, jangan hanya membaca judul lalu dengan gampangnya menyimpulkan sendiri tanpa menunggu klarifikasi dari pihak terkait. Kita boleh berkomentar ketika kita benar-benar mengetahui sesuatu yang ingin kita komentari. Termasuk ketika kita ingin memberi tanggapan tentang berita di media massa, kita wajib hukumnya sebelum memberi tanggapan untuk kaji lebih lanjut apa yang ingin kita tanggapi. Tidak asal menyimpulkan dari judulnya. 

Penulis: Dina Ane Triyandika


Komentar