TALKSHOW PENANGANAN STUNTING KE-7, DR. RISNANTO: MAHASISWA HARUS SUDAH TEREDUKASI

Sumber: Siswapedia

Slawi (29/9) – Stunting adalah masalah kurang gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Tahun 2022, Kabupaten Tegal masuk jajaran kabupaten dengan angka stunting tertinggi ke-2 se-Jawa Tengah setelah Wonosobo dengan prevalensi mencapai 28 persen. Dengan demikian, 1 dari 5 balita di Kabupaten Tegal mengalami stunting. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kab. Tegal menggandeng Universitas Bhamada Slawi memberikan penyuluhan dengan cara menghadiri Talkshow Penanganan Stunting ke-7 yang disiarkan melalui saluran udara Radio Slawi FM, Selasa, 6 September 2022.

Universitas Bhamada yang diwakili oleh Dr. Risnanto, M. Kes., memaparkan bahwa kampus Bhamada terus mengupayakan edukasi tentang stunting bagi mahasiswanya. Kendati tidak memiliki mata kuliah khusus tentang stunting, beliau menghimbau kepada para dosen agar menambahkan pemahaman stunting pada mata kuliah yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak seperti mata kuliah keperawatan maternitas dan keperawatan anak. Beliau juga menerangkan bahwa baru-baru ini pihaknya bersama mahasiswa Bhamada telah melakukan penelitian berupa Analisis Faktor-Faktor Dalam Kejadian Stunting yang menghasilkan 4 faktor penyebab stunting yaitu, berat bayi lahir rendah (BBLR), makanan pendamping ASI (MP ASI), ekonomi, dan pendidikan ibu.

 

Program Nasional

Menurut Dinkes Kab. Tegal, dalam hal ini disampaikan oleh Saeruroh, pencegahan stunting harus mulai diterapkan sejak dalam kandungan. Para ibu harus sadar tentang pentingnya pemenuhan gizi di 1000 hari pertama anak sebagai salah satu upaya pencegahan stunting. Selain itu, pihaknya juga tengah merancang berbagai program guna menekan angka stunting di Kabupaten Tegal misalnya dengan Gerakan Jumat Cantik. Ini adalah acara minum tablet tambah darah bersama yang akan dilakukan di sekolah-sekolah di Kabupaten Tegal. Kemudian ada rencana program bantuan PMT (Pemberian Makan Tambahan) bagi ibu hamil yang kekurangan energi kalori. Rencananya ibu-ibu hamil dengan kekurangan energi kalori ini akan dapat makanan yang sudah dimasak oleh kader kesehatan di setiap desa selama 90 hari. Saeruroh mengharapkan program ini harus tepat sasaran bagi ibu-ibu yang kekurangan energi kalori. Menurutnya, bukan hanya yang tidak mampu secara ekonomi, yang mampu juga bisa kurang energi kalori. Jadi, semua ibu hamil yang kekurangan energi kalori, meski ibu tersebut mampu, maka tetap mendapatkan PMT. 

Selain bantuan pangan, diinformasikan bahwa Kabupaten Tegal telah mendapatkan 10 bantuan USG untuk beberapa faskes. Nantinya, program USG akan diwajibkan dan akan ada klasterisasi. Dr. Risnanto juga mengusulkan agar menggratiskan program USG bagi ibu hamil dengan ekonomi kurang mampu dan bayar bagi ibu hamil yang mampu secara ekonomi.


Jadi Beban Negara

Stunting yang merupakan kurang gizi kronis, disinyalir berdampak besar terhadap kehidupan bernegara. Indonesia 15 tahun ke depan akan mendapat bonus demografi dengan banyaknya usia produktif di tahun tersebut. Jika seharusnya mereka produktif, malah menjadi beban negara karena anak-anak mengalami stunting. Pola asuh dan makan makanan bergizi mengambil peran penting terhadap perkembangannya. Sekali lagi, Dinas Kesehatan menekankan bahwa ibu harus peduli pada 1000 hari pertama kehidupan, harus diopeni agar tidak ada resiko stunting. Karena jika tidak, akan berbahaya bagi diri sendiri dan juga negara. Selain tidak bisa produktif, pun kecil kemungkinan diterima bekerja karena stunting dapat menyebabkan intelegensi rendah. (WK)

Komentar