[OPINI MAHASISWA] SISI GELAP BUKBER KONTROVERSIAL YANG TUAI PRO KONTRA

Tertanggal 8 April 2023, Universitas Bhamada telah menggelar acara buka puasa bersama bertajuk “Bhamada Festival of Ramadhan 2023”. Acara yang digelar di Auditorium Prof. Dr. Tri Jaka Kartana ini dihadiri oleh lebih dari 1000 mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Bhamada Slawi.

Dibalik kemeriahan acara tersebut, ada suara-suara mahasiswa yang dibungkam karena dianggap tidak sopan dan menodai nama kampus. Sebenarnya ada apa?

Jika dirunut kembali, polemik ini bermula dari pesan salah satu anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) (5/4) yang mengabarkan tentang ketentuan terkait acara bukber yang diselenggarakan Sabtu, 8 April 2023. Menurut sumber yang didapat, awalnya pesan ini hanya ditujukan untuk salah satu kelas sebagai bentuk ‘gertakan’ agar anggota kelas tersebut mau menghadiri acara ini. Namun, entah accidental  atau memang disengaja, pesan tersebut disebar di grup komandan tingkat (komting). Komting yang merasa bertanggung jawab, akhirnya meneruskan pesan tersebut ke kelasnya masing-masing. Hal ini kemudian menimbulkan keresahan mahasiswa karena merasa keberatan dengan isi pesan tersebut. Berikut isi pesannya:

Assalamu’alaikum izin memberikan pengumuman mengenai acara puncak festival ramadhan yang diselenggarakan dihari sabtu tanggal 8 maret 2023

1.      Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif universitas bhamada slawi, kecuali mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi atau mahasiswa d3 yang sedang praktik di rumah sakit (Sunah). Jika ingin ikut bisa hubungi ke HMJ Masing-masing.

2.      Mahasiswa dikenakan wajib bayar sejumlah 25k untuk keperluan membeli makanan berbuka puasa

3.      Jika ada mahasiswa yang tidak bisa mengikuti acara tersebut tetap membayar uang sejumlah 25k dan membuat surat pernyataan bermaterai dan ditandatangani Ka. Prodi masing-masing dan kemahasiswaan yang berisi alasan bahwa tidak bisa mengikuti acara tersebut, Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk donasi ke panti asuhan.

4.      Untuk mahasiswa yang sudah membayar dan terdata mengikuti acara tersebut kemudian pada saat hari Sabtu tidak berangkat atau tidak mengisi absensi, akan dilakukan pemanggilan dan akan diberikan sanksi oleh pihak dari kemahasiswaan.

Terimakasih

Tembusan

-     Kemahasiswaan

-     Ka. Prodi

-     Penanggung jawab

-     Ketua Acara

 

Pesan berisi pernyataan ini dianggap memberatkan mahasiswa hingga muncul banyak kecurigaan dan tanda tanya besar. Beberapa menganggap ini sebagai pemerasan dan pemaksaan. Karena ini hanya acara bukber, tentu seharusnya tidak ada kaitannya dengan kepentingan akademik. Ternyata setelah diselidiki, ketentuan tersebut sebenarnya belum tembus ke pihak kampus dalam hal ini kemahasiswaan dan kaprodi.

Besoknya (6/4), tersebar kabar bahwa ada salah satu mahasiswa yang sambat di base menfess twitter berbunyi “Aneh banget kemahasiswaan kampusku ngadain bukber. Kalo ga ikut suruh bikin surat bermaterai, TTD kaprodi dan tetep bayar, kalo ga bikin surat tetep bayar dan kena sanksi. Bukber kok maksa.” Tentu saja, setelah melihat ketentuan yang sudah tersebar, cuitan tersebut adalah bentuk protes mahasiswa kepada kampus dan pihak penyelenggara, dimana mereka sudah semena-mena terhadap mahasiswa. Bahkan setelah itu, muncul surat pernyataan dimana tertulis bahwa oknum yang telah memposting cuitan tersebut diminta untuk menghapus postingan dan memberi klarifikasi kepada panitia dalam jangka waktu 1x24 jam dan jika tidak dihapus dan tidak ada klarifikasi maka akan ditindaklanjuti oleh pihak kemahasiswaan. Jika ditilik dari pernyataan pihak panitia, bukankah seharusnya mereka sudah menyadari bahwa ada yang salah sampai ada mahasiswa yang bercuit begitu? Perlu kita tinjau ulang, apakah ada ketakutan dari pihak penyelenggara bahwa masalah ini akan tersebar dan membuat nama baik kampus tercoreng seperti pada kampus-kampus lain. Buntut dari intimidasi ini adalah semakin resahnya mahasiswa akan kebijakan kampus yang dinilai tidak masuk akal.

Setelah banyaknya suara-suara yang mengeluhkan soal kebijakan tersebut, kami mencoba untuk meminta pendapat jelas dari beberapa mahasiswa. Sebut saja Mawar (bukan nama asli), dia mengeluhkan soal peraturan bukber yang begitu memaksa. “Bagus sih ngadain bukber tapi kalo peraturan bersifat memaksa kaya gini bikin kesel.” Ia juga menerangkan kalau bukber yang seharusnya bisa dihadiri para mahasiswa dengan rasa ikhlas, karena ada peraturan tersebut mahasiswa jadi tidak ikhlas.

Sedangkan Tri (bukan nama asli) menyampaikan pendapatnya bahwa acara yang menuai berbagai protes mahasiswa ini dipandang kurang efektif dilihat dari segi psikologis mahasiswa. Berkaca dari bukber kelas yang notabene lingkup kecil pun masih berkelompok-kelompok. Lalu bagaimana nasib mahasiswa yang tidak punya kelompok eksklusif (re: circle)? Mereka kebanyakan berakhir hanya diam dan bermain hp sendiri. Ingin bergabung dengan salah satunya pun rasanya canggung dan takut ada penolakan tersirat.

Kemudian, apa esensi dari bukber ini? Menjalin tali silaturahmi? Atau agar semua mahasiswa mendengarkan tausiah kemudian mendapat hidayah? Atau hanya egosentrisme panitia agar terlihat punya output? Menurut pandangan Tri, jika tujuan dari bukber ini adalah untuk menumbuhkan tali silaturahmi, itu hanya omong kosong. Dilihat dari jumlah peserta pun rasanya mustahil untuk menjalin silaturahmi apalagi hanya dengan acara sesaat seperti bukber ini. Jika hanya untuk mendengarkan tausiah, zaman sekarang pengajian gratis di mana-mana. Mulai dari saluran tv sampai dakwah lewat tiktok dengan gaya millenial. Dengan akses yang gratis dan mudah dijangkau saja kebanyakan malas mendengarkan dan hanya di-skip. Apalagi jika harus mengeluarkan 25.000 rupiah, datang ke kampus panas-panasan. Kebanyakan akan lebih memilih datang telat, menunggu ceramah selesai, atau bahkan mepet iftar.

Sekali lagi, kemungkinan ada ketakutan dan kekhawatiran dari panitia terkait banyaknya audiens pada bukber ini mengingat antusiasme mahasiswa Bhamada terhadap event kampus sangat minim. Jika dilihat dari sudut pandang panitia, ini adalah cara mereka mengantisipasi kurangnya partisipan yang hadir dan agar acara ini semarak. Namun, perlu diingat lagi cara mereka dalam menginformasikan dan mengajak mahasiswa ini dinilai kurang bijak, bahkan terkesan arogan dan memaksa. Seharusnya mahasiswa bukan anak kecil lagi yang bisa diancam dan dibungkam karena pemaksaan. Mahasiswa adalah manusia-manusia akademisi, kaum intelek yang punya pemikiran dan pertimbangan. Cobalah untuk menganalisis mahasiswa-mahasiswa yang memilih tidak menghadiri event kampus, apa sebabnya? Apa kiranya yang perlu dibenahi dalam sebuah organisasi dan kepanitiaan? Coba diteliti, apakah para aktivis ini kurang pendekatan dengan mahasiswa ataukah memang para mahasiswa ini menganggap bahwa sebuah event kurang bervalue.

Dengarlah suara-suara mahasiswa. Jangan tiba-tiba mengadakan event kemudian meminta para mahasiswa untuk mengikuti. Bahkan itu bukan permintaan ataupun permohonan, setelah merunut berbagai kejadian serupa, kebanyakan berbentuk instruksi atau suruhan. Tidaklah sopan ketika bahkan kita tidak dekat dengan seseorang kemudian dengan seenaknya menyuruh melakukan sesuatu sesuai kehendak kita. Kami mahasiswa, bukan budak jahiliyyah. Suara kami dilindungi Undang-Undang. Backingan kami mahasiswa seluruh Indonesia. Panitia adalah minoritas, ruang geraknya sempit karena tidak bisa mengandalkan siapapun. Sedangkan objek bukber adalah mayoritas. Jika mayoritas ini bergerak cerdas, kaum minoritas bisa apa?

Jika diibaratkan kampus adalah sebuah negara, maka DPM adalah DPR dan mahasiswa adalah rakyat. Apa tugas DPR? Menampung dan mengelola aspirasi rakyat. Meski kenyataannya belum terrealisasi sepenuhnya, lalu apa kita akan mengikuti jejak bobrok para penguasa tersebut? Jika begitu, sampai kapanpun Indonesia tidak akan maju. Generasi penerusnya tidak bisa membuat perubahan. Apa faktornya? Antara takut dan malas. Takut menjadi berbeda dan malas karena tanpa membuat perubahan pun sudah tersedia fasilitas.

Dengan adanya tulisan ini, pihak kampus, aktivis, dan mahasiswa perlu bersama-sama membenahi sistem yang ruwet ini. Semestinya mahasiswa perlu diajak berdiskusi saat para aktivis organisasi kampus tersebut akan menyelenggarakan event seperti ini, bukan hanya untuk pihak internal panitia. Karena tidak semua yang disepakati dalam forum panitia dapat diterima oleh mahasiswa lain. Panitia tentunya butuh sudut pandang pihak-pihak lain yang berkaitan guna kepentingan pertimbangan dan tentu saja menghindari suara-suara tidak sedap seperti kemarin. Tidak perlu seluruh mahasiswa, cukup perwakilan yang sanggup untuk mewakili suara seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi. Akan lebih bijak dan sopan jika mengundang seseorang dengan bertatap muka secara langsung tanpa melupakan surat undangan resmi.

 

-Mahasiswa yang haus transparansi-

Komentar