Payung yang Mengaburkan Harapan Karya : Virga Cahya Sepyani

 “Aku tidak tahu.” Gumamnya lagi berterus terang. Dan jika memang

demikan dia serius berterus terang aku menyerah. Kata-kata yang terlontar dari

mulutnya adalah rancu. Dia selalu menggumam tidak tahu. Sehingga aku selalu

kelabakan untuk mengetahui apa yang dia pikirkan.

“Aku bukan hacker informasi kepala manusia.” Kataku tajam di depan

komputer.

Adalah Diman sang manusia berjenis kelamin laki-laki yang bekerja

bersamaku di dalam kantor yang sama, di suhu AC yang sama yang semakin

dingin saja. Diman pria yang bermulut rancu itu mendengus mendengar kata-

kataku. Sebelum menggubris amarahku yang kutahan sejak kali pertama

peramban informasi curian muncul di layar komputernya, Diman beranjak pergi

dari kursi duduk putar. Bahu tegapnya tiba-tiba bangkit dan menyingkirkan kursi

putar dengan senangnya hingga menabrak papan pembatas alias kubikel. Aku

diam saja. Tanganku terasa gatal. Perasaan itu semakin saja menjalar liar. Tapi

kutahan, kuingat lagi apa tujuanku datang malam-malam buta ke kantor hanya

untuk mengecek informasi rahasia mengenai kasus peledakan manusia dengan

ranjau darat di salah satu daerah.

Setelah kepegiannya aku bergerak tanpa sadar. Kupanjangkan leherku

menyentuh pembatas bilik kerja kami berdua dan mencuri-curi lihat tampilan apa

lagi yang muncul di layar sang rancu itu. Sinar bewarna kuning menyilaukan

mataku tepat ketika kulonggokkan kepala, layar yang mulanya meredup hitam

tanpa satupun tulisan maupun gambar secara mendadak menayangkan adegan

hitam putih di sebuah pesawat. Di pesawat yang kulihat itu kukenali seseorang

yang tak asing dan tak lain adalah Munir. Seorang aktivis perjuangan asal

Indonesia yang sedang duduk di kursi penumpang.Wajahnya tidak begitu nampak. Dari sekian puluhan orang pria asal

Indoesia yang hendak pergi ke luar negeri itu ia tampak cemas menatap ke sana

kemari. Digenggamnya segelas jus bewarna orange cerah. Aku berkedip, dan

sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, lantas layar memperlihatkan

sekelebat orang datang. Tubuhnya dikerumuni oleh banyak orang. Mereka saling

berteriak, orang-orang tampak pucat pasi dan tubuh mereka saling tubruk

menubruk dengan suara gedebuk keras. Salah satu orang yang kelihatan agak

tenang terlihat memanggil pramugari. Satu detik berlalu pramugari yang masih

kebingungan dengan apa yang terjadi pun menjerit. Aku bisa mendengar jeritan

ketakutan sesaat matanya menangkap sesosok mayat terbujur kaku dengan lidah

memelet nyaris putus.

“Ini kan yang kamu suka?” sebuah suara dingin mengagetkanku.

“Diman! Kamu emang sampai kapanpun brengsek ya! Kamu bilang tidak

tahu,” Aku menirukan kata tidak tahu persis seperti Diman saat mengelak jika

diberi pertanyaan. “Apa-apaan ini? Kamu mengambil dari mana? Kalau sampai

ada yang tahu kita-“

Aku berhenti mencerocos saat asap hitam yang Diman tahan di paru-

parunya dikeluarkan. “Sengaja banget ya,” Aku menarik kembali leherku dan

kembali ke kursiku sambil menatapnya sinis karena dia mengintrupsi ucapanku

dengan asap rokoknya. Hal yang paling kubenci darinya.

“Sudah ngomelnya nenek lampir?” katanya seraya mengambil kursi

putarnya yang berada agak jauh dari kubikelnya. Lantas duduk merebah dan

menghisap lagi tembakau gosong itu.

“Belum puas ngudut-nya narkoboy?” kataku tak mau kalah.

Bagiku meski itu hanya sekedar nikotin atau hanya tembakau murah, jika

yang dirasakan penggunanya adalah candu maka bagiku itu adalah satu jenis

narkoba. Dan aku sangat suka mamanggil orang yang tersangkut-paut dengannarkoba dengan sebutan narkoboy. Diman mengangkat bahu sebagai respon atas

ledekkanku. Masa bodo. Aku bisa melihatnya berkata demikian walau hanya

dengan ekspreksi cueknya. Dia tidak pernah merasa tersindir apa lagi baperan

akan hal remeh seperti itu, dan aku menyukainya akan hal itu meski aku tahu

betul kepribadian jiwa nuraninya berantakan dan brengsek, anehnya aku

terpesona olehnya. Seaakan aku telah menghisap candu berwujud cinta yang dia

datangkan padaku tanpa ia duga dan harapkan.

*

Hari telah malam saat berita itu muncul kembali. Linang meremas-remas

koran yang terbeli di penjual asongan, setelah hanya membaca headline-nya saja

ia pun meremas koran itu menjadi buntalan kecil dan membuangnya

sembarangan di sungai kotor dan penuh sampah. Dada Linang tak sanggup

membaca isi berita yang penuh cuitan berisi hujatan kata-kata hina kepada

korban yang memperjuangkan kemanusian atas ketidakadilan negeri ini di masa

lampau. Sebab Linang yang baru saja lulus wawancara di Perusahaan Surat Kabar

itu juga salah satu keturunan korban ketidakadilan itu. Di sore hari setelah dia

diterima bekerja di perusaahan netral anti kiri atau kanan kabar gelap itu datang,

dikatakan bahwa pemilik Perusahaan itu ditangkap atas tuduhan yang

mengindikasi bila mereka menyebarkan berita bohong yang berkaitan erat

dengan kasus-kasus lama yang tak terselesaikan.

Rumornya Perusahaan tempat Linang berkerja mengirimkan mata-mata

yang bertindak sebagai wartawan nasional yang bermisi untuk mengorek

kebenaran. Jelas aparat sangat tidak menyukai itu. Perusahaannya memang

sangat misterius yaitu menyebarkan hoaks-hoaks dan konspirasi palsu yang

terlihat menjanjikan, supaya aparat yang bertanggungjawab atas peristiwa itu

ketakutan dan kembali menyelidiki kasus-kasus tersebut. Karena netizen

Indonesia memiliki daya kekuatan sesumbar hujatan di dunia maya, perusahaan

itu dengan cerdik menggunakan kekuatan netizen untuk menakut-nakuti aparat.Sudah lebih dari puluhan tahun Perusahaan mereka berdiri, pegawai yang

mereka rekrut terdiri dari keturunan atau kerabat korban ketidakmanusian masa

lampau. Tidak ada yang pernah menyadari dan mengetahui misi mereka

ditambah pekerjaan mereka selalu rapi. Bahkan ketika hoaks yang mereka siarkan

nyaris kepergok oleh badan Intelegen Negara mereka mudah saja menutupinya

dengan membuat berita pengalih perhatian yang sedang booming dan digemari

masyarakat. Sayangnya semakin suatu perusahan berkembang besar selalu ada

kebocoran di dalamnya. Jika itu bukan karena kesalahan internal pasti karena

faktor eksternal. Penghianat. Ada seseorang yang mereka kirim dan berhasil

menangkap basah aksi Perusahaan itu bekerja.

*

Linang berlari pontang-panting menerobos hujan. Percikan air

membasahinya. Sampai seratus meter dia berjalan belum dia temukan satupun

pepohonan yang bisa dijadikan berteduh. Wajar saja, ini kota Jakarta. Walaupun

ada ratusan deretan rumah terhampar sepanjang jalan, Linang tak bisa seperti

biasanya memutuskan mana tempat berteduh dari salah satu rumah, itu

dikarenakan berita bohong mulai menyebar. Bila sesiapapun orang asing yang

datang ke rumah warga meski hanya ingin berteduh dia harus dicurigai.

Barangkali mereka adalah pegawai Perusahaan Surat Kabar yang belum

tertangkap karena mereka berhasil kabur, dan kabarnya akan dicari dan

dicebloskan ke penjara tanpa berkesempatan untuk menuntut balik.

Linang takut. Ia tidak bisa berdiri dan membiarkan tubuhnya diguyur

hujan, dan ia tidak punya tempat pulang karena barangkali ada orang aparat yang

menggrebek rumahnya karena Linang sudah menyerahkan alamat rumahnya ke

Perusahaan. Dan pasti cepat atau lambat Linang harus mengakhiri aksi kaburnya.

“Tidak untuk saat ini.” Songsong sebuah suara ketika ia masih berlari

menerobos hujan tanpa arah.Pria itu memakai payung. Melindungi rambut gondrongnya yang diikat ke

belakang, rasa takut kembali menyergapnya. Jangan-jangan dia hendak

menangkapku. Tapi… rasa-rasanya wajah dia tidak asing. Koran itu…. Linang pun

terhenti olehnya di tengah jalan karena rasa penasaran.

“Jangan takut.” Katanya singkat sembari asap hitam keluar masuk dari

hidungnya. “Kau salah satu orang Perusahaan itu kan?” Dia terus bicara. “Tidak

tahu hendak ke mana? Mencari pekerjaan? Aku punya tawaran bagus untukmu.”

Pria aneh itu mendekat dan memayungkan tubuh Linang yang kebasahan

dan kedinginan.

Linang menatap lekat-lekat pria itu. “Kamu terlihat tidak asing.”

“Ouh ya? Itu bagus, kita bisa jadi rekan tim yang bagus. Mau ikut

tawaranku?” Tanyanya lagi tanpa Linang mengerti mengapa pria itu berbaik hati

padanya.

“Oke, aku memang butuh pekerjaan. Jadi pekerjaan apa yang kamu

tawarkan padaku?”

Pria itu mendekat. Asap pahitnya menusuk hidung Linang, tapi ia tak

berdaya, ia telah terpincut. “Namamu?” Dia mulai bertanya seakan hendak

melakukan wawancara. Dan tebakannya benar.

“Panjang? Atau-?”

“Panggilan.”

“Linang.”

“Bisa IT?”

“Itu keahlianku.” Lugasnya cepat. Linang merasa aman dan mulai percaya

pria itu sepertinya bukan bagian dari mereka.

“Tahan semalaman di depan layar komputer?”“Tidak masalah.”

“Suka surat kabar?”

Linang terkesiap. Dadanya berdesir. “Ya-“ dia sedikit tergagap.

“Genre favorit?”

“Buku? Emm fiksi sejarah.”

Pria itu menghisap lagi rokoknya dan membuangnya ke langit-langit

payung. Linang merasa matanya panas.

“Kamu orang yang kami cari. Selamat kamu diterima bekerja di Badan

Intelegen Negara. Aku Diman, seniormu. Aku akan jemput kamu besok, rumahmu

dekat sini kan?”

Linang tidak bisa menjawab pertanyaan pria itu. Dia masih terus

mengaitkan apa yang sebetulnya dia lakukan, mengapa ia patuh terhadap kata-

kata pria itu. Peliknya jantungnya terus bergelora. Sampai ia pun tak tahan lagi,

sebelum itu meledak Linang bicara. “Aku tidak tahu siapa kamu, tapi kurasa kamu

bukan bagian dari mereka ‘kan?”

Pria itu menggeleng. “Simpan semua pertanyaanmu besok pagi, pulang

dan mandilah. Aku tidak mau kamu sakit di hari pertama kerja. Ada pertanyaan

selain itu?” Dia menyerahkan payung sepenuhnya kepada Linang. Tangannya

kaku Ketika mengambil payung itu.

“Bolah aku berterus terang?”

“Silahkan, aku juga suka berterus terang. Tapi janji ini yang terakhir

kalinya.” Sahutnya lantas menunggu Linang yang tak bicara-bicara.

Linang memiringkan kepala ke samping untuk menahan rasa malunya. Dia

lalu menggeleng. Dengan agak mengeraskan suara Linang berbicara, “Ini aneh,

kamu sungguh misterius. Kamu tiba-tiba datang membantuku menawarkanpekerjaan. Seperti…. kamu dengan sengaja menantiku di sini. Ini mungkin

terdengar gila. Kau boleh anggap aku tidak waras setelah ini. Namun sepertinya

aku menyukaimu.” Sebentar kemudian terbitlah rona merah di pipi Linang.

Waktu kemudian terasa terhenti. Lenggangnya jalanan malam tanpa

siapapun melangkah menambah kesyahduan mereka membisu. Pria itu untuk kali

pertama akhirnya menarik rokok dari mulutnya. “Jangan… jangan jatuh cinta

padaku. Aku tak ingin menduga dan mengharapkan itu.” Kata Diman pilu di dalam

hati. Malam itu pun berakhir asing, Linang tak pernah tahu bahwa dia telah

bertemu penghianat yang telah menghancurkan mimpi-mimpinya untuk

menyuarakan keadilan.

Komentar