Setetes Hujan Terakhir
Bayang-bayang hitam itu perlahan surut dan padam. Mendung bergejolak di langit biru kelabu pertanda air akan tumpah ruah menimpuk kami satu persatu. Meski payung hitam sudah jelas akan melindungi kepala aku dan adikku, aku merasa air yang menimpa permukaan payungku terasa panas menyengat. Apakah air hujan sudah membaur dengan asam klorida alias HCL yang berasal dari lambungku yang menggelegak sedari siang belum terisi makanan? Perutku sakit, kepalaku ingin sekali pecah, mataku berkunang-kunang. Aku mulai lelah. Seharusnya begitu saja kukatakan pada nenekku yang ada tepat di sebelahku. Mengadu bahwa seharusnya meski kita sudah membawa payung sebaiknya kita berteduh. Akan tetapi nenekku yang berwajah sendu dan keras kepala itu tidak berkutik semenjak tetes air pertama jatuh mengenai telapak tangannya ketika ia berkata padaku, “Dea.. sebentar lagi nenek akan menerima itu. Setetes air hujan di perjuangan terakhir kita selama puluhan tahun bersama kakek dan belasan tahun bersamamu.”
“Nenek,” aku memanggilnya agak kesal. Dia tidak menyahut, mengedik pun tidak, apalagi menoleh ke arah sampingku.
Andai ada ayah di sini dia pasti akan segera membawa nenek pulang karena sepatutnya usahanya sudah selesai. Semalam di rumah kami yang sederhana, kami berunding penuh emosi. Pertarungan antara ayah dan ibu yang memperdebatkan apakah kami akan pindah ke Kalimantan Timur alias IKN. Nenek yang menjadi sasaran kemarahan ayah. Ia jelas tidak setuju akan permintaan nenek yang diwakili oleh ibuku karena nenek tidak sanggup lagi untuk koar-koar memperjuangkan hak bicaranya. Jadilah ibu yang menyampaikan keinginan besarnya untuk mengabdi pada usaha yang sudah dia lakukan semenjak pamanku yang baru saja lulus kuliah sastra di UI hilang ditelan kengerian yang melanda pada awal masa sebelum reformasi tiba.
“Mas! Kita harus ngertiin perasaan Ibu! Berapa kali aku bilang, cuman ini yang mau ibu lakukan sebelum…sebelum… sebelum…” Ibu terisak. Aku buru-buru mengangkat adik laki-lakiku yang duduk di depan meja makan, yang tangannya menghisap sisa-sisa susu bubuk yang ia minum di gelas kecilnya. Aku berlari secepat kilat. Aku tidak akan mau hal yang sama menimpa keluargaku terjadi, adikku yang lemah mendengar kedua orang tuaku yang tidak pernah berhenti untuk bertengkar semenjak presiden itu berniat membangun ibu kota baru. Aku bergegas ke kamar mandi setelah menaruh adikku ke kamarnya. Mengikis bulir-bulir air mataku yang tumpah, menarik nafas yang tidak bisa betul-betul normal. Rasanya pengap, dadaku sesak, kemarahan itu mulai melandaku.
Pukul 10 malam tiba. Suara itu mulai menghilang. Aku tidak tahu apa akhir dari perseteruan besar ayah ibu yang tidak biasanya memakan waktu lama itu. Namun setelah berupaya meredam rasa gemuruh riuh yang mendera dadaku, aku beranikan diri keluar dari kamar mandi. Membilas wajah dan menyeka air mata yang menerobos keluar dari mataku. Handuk kering yang kupakai sudah sepenuhnya basah oleh air yang kugunakan untuk membersihkan wajah dan juga air mata yang lagi-lagi tak mau berhenti. Rentetan gambar ketika orang tuaku marah-marah seperti film yang diputar terus-terusan di dalam kepala masih saja belum pergi keluar. Aku mencoba menenangkan diri sebelum aku pergi menemui nenekku yang terdiam duduk di meja makan seorang diri. Satu-satunya ruangan yang belum lampunya dimatikan adalah ruang makan. Itu pertanda masih ada orang di ruang makan. Aku yakin di ruangan itu kalau bukan ada Ibu yang remuk redam menahan isak tangis, pasti nenekku si tegar yang tidak pernah berbicara keras pada siapa pun. Termasuk pada ibuku. Jadi ketika konflik lama ini sering sesekali dibicarakan lagi, ayahku tidak pernah mau menerima derita keluarga kami yang sudah turun temurun dia menjadi mulai marah-marah. Kalau kata Ibu tepatnya sebelum aku lahir pun ayah sudah mulai seperti itu. Katanya di kantor penyiaran berita tempat kerjanya, ayah selalu dibuli karena punya adik ipar yang bermasalah, yang macam-macam dengan penguasa, punya istri yang gila dan mertua yang mengalami halusinasi. Aku marah pada ayah. Aku membencinya terlebih ketika dia akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Ibuku.
Jadi ayahku yang saat ini, yang bertengkar dengan ibuku tadi adalah ayah tiriku yang kedua. Ibuku adalah wanita cantik yang lembut sekali hatinya. Meski sebenarnya dia menderita, bersama nenek sejak kecil Ibu selalu sengsara, tersiksa batinnya oleh ocehan teman-temannya yang tak pernah mau membantunya. Ayah tiriku yang pertama tidak berbeda dengan ayah kandungku yang bertahan dengan Ibu hanya 5 tahun saja. Umurku saat ayah tiriku yang pertama menyudahi hubungan anak dan ayah dengan aku adalah 8 tahun. Kenangan indah tidak pernah lekat dalam benakku ketika membayangkan ayahku itu. Tetapi untuk ayahku yang bertahan sampai aku kini berusia 24 tahun lebih baik. Aku dengannya punya banyak kenangan manis. Ia berkenan menyempatkan diri minta cuti di hari kamis akhir bulan untuk pergi ke depan gedung istana menemai nenek dan ibuku. Adikku yang masih kecil itu baru lahir dua tahun yang lalu. Saat covid. Perjuangan kami saat covid adalah yang paling membekas tajam. Begitu banyak hal sulit dan terjadi karena kami secara beruntun kehilangan kerabat kami, terutama kakekku. Laki-laki paling sempurna yang nenekku pernah kenal selama umur hidupnya. Mereka adalah pasangan paling setia di usia senja yang saling menemani dan menjaga ketika salah satu dari mereka psikis alias jiwanya terganggu karena menahan beban masa lalu. Kemarahan dan dendam yang dipendam itu hanya mampu mereka salurkan dengan berdiri tiap kamis siang-malam sambil membawa kertas-kertas permohonan seorang Ibu yang membutuhkan keadilan HAM.
Kepergian kakek adalah titik terendah nenek tetapi juga menjadi puncak ketabahan dan kesabarannya karena setahun kemudian mimpi-mimpi dan harapan yang seharusnya jadi nyata itu musnah. Reformasi hanya kedok para pemerintah dan kurcaci-kurcaci ajudan mereka. Waktu nenek mendengar berita itu, berita tentang pemindahan ibu kota… untuk kali pertamanya selama aku hidup dan mengenal nenek ia menangis, ia marah dan berteriak. Hari itu menjadi hal yang paling membuatku trauma. Nenek kabur dari rumah. Sontak semua orang panik, para tetangga kami yang sudah mengenal nenekku dengan baik ikut prihatin dan bersedia membantu. Aku yang hendak membantu mencari keberadaan nenek dipaksa oleh ayahku untuk diam di rumah karena besok malamnya ada satu rombongan keluarga datang. Kekasihku hendak meminangku. Satu tahun lalu itu sangat menempel di ingatan. Di mana aku kebingungan haruskah aku bahagia karena seseorang yang paling kunanti-natikan untuk temani susah senangku akan melamarku, tapi hari itu aku tidak bisa berhenti menangis. Make up yang telah menyusun wajahku menjadi indah mempesona itu luntur karena kandungan garam dalam air mata. Ibuku ikut menangis. Sehingga terpaksalah acara itu dibatalkan hingga sebulan lalu kekasihku datang kembali untuk melamar. Ternyata nenek tidak kabur. Ia hanya pergi ke makam kakek. Kata para tetangga yang menjemput nenek, ia terlihat tengah menangis sambil memeluk nisan kakekku. Mengadu dan berteriak. Tiada yang bisa menghentikan kemarahan nenek yang tidak pernah sedikit pun keluar dari mulutnya. Karena ia selalu legowo, menerimanya tanpa aksi anarkis dengan mencaci-caki pemerintahan yang kini sangat oligarki.
Tahun itu juga ayah tiriku yang kedua yang sudah kuanggap seperti ayah kandungku sendiri mulai berubah. Aku percaya perubahannya bukan tanpa alasan, semua ini pasti karena keadaan yang membuatnya demikian. Permintaan nenekku yang sudah tua dan tidak lama lagi akan menyusul kakek menyentak Ibu dan nenek ke realita pahit, ayah tidak bisa pindah ke Kalimantan. Pekerjaannya di Jakarta sudah klep dan ayah tidak pernah setuju pada pemerintah yang memindahkan dirinya keluar dari pulau jawa.
“Tapi ayah, maksud nenek meminta pindah bukan karena… ayah tahu kan, nenek hanya ingin menyelesaikan tugasnya sampai akhir hidupnya. Ia cuman mau berjuang,” aku ikut membela bersama Ibu. Namun ia tidak demikian, tanganku justru ditarik ibu keras. “Dea! Jangan ikut-ikutan kamu.” Dia mendelik padaku yang berani mendebat ayah meski ibu tahu aku bermakusd mendukung ibu.
“Pekerjaan kan bisa dicari lagi mas di sana…” ibu kembali bicara setelah aku pergi masuk ke dalam kamar mengunci diri bersama adikku yang yang menangis meminta susu.
Aku benci sekali perdebatan, ketika dua orang saling menaikkan suara ke oktaf yang terlampau tinggi untuk membela dirinya sendiri, tidak pernah ada solusi yang dihasilkan dari semua itu. Karena itu aku selalu lari dan tidak pernah tahu ending apa yang terjadi di antara Ibu dan ayah. Tapi untuk malam kemarin tanpa perlu banyak berpikir aku sudah bisa menebak kalau itu akan jadi obrolan terakhir mereka. Sangat disayangkan Ibu harus kembali berpisah dengan laki-laki dengan cara yang tidak menyenangkan yaitu saling beradu mulut serta teriakan. Kenapa Tuhan, orang selemah lembut ibuku itu yang tidak pernah mendapat kekerasan entah itu verbal atau non verbal itu harus berhadapan dengan pasangannya yang kasar dan suka teriak-teriak? Hingga usiaku 24 tahun ini Ibu tidak pernah memarahi atau menasihatiku dengan suara tinggi apalagi kasar, walau sesekali pernah ketika Ibu membentakku ketika aku berani menyela ucapan ayah yang sedang mencaci ibu karena terlalu memanjakan nenek yang meminta ingin pindah ke IKN.
Aku sudah tenang. Mataku tidak lagi merah menyalang. Aku mendekati nenekku yang duduk menatap piring-piring bekas makan malam yang masih belum diambil Ibu untuk dicuci. Cangkir berisi kopi hitam pekat ayah tidak habis diseruput. Makanan Ibu masih belum ada setengah dimakan. Sosoknya tiada di ruangan itu. Aku melihat sekeliling. Benar-benar sunyi malam kamis ini. Hitam dan kelam seperti esok nanti sepertinya. Aku melirik ke pintu kamar yang ditempati Ibu tertutup. Itu berarti Ibu sedang mendekam di sana. Aku tahu itu bukan kamarnya. Itu kamar pamanku yang telah tiada 30 tahun lalu. Biasanya pintunya selalu terbuka lebar, itu kegemaran nenek di setiap malam. Katanya ia merasa anaknya selalu mampir di malam-malam untuk tidur di kamar kecilnya. Maksudnya pamanku. Tetapi jika pintu kamar tertutup itu tandanya ada Ibu yang ada di kamar paman. Hal itu terjadi jika Ibu sedang bertengkar dengan ayah, atau ketika ia sedang sakit, atau ketika ia lelah dengan pekerjaannya. Alasannya tidak pernah aku tahu, tetapi aku bisa menyimpulkan sendiri kalau Ibu akan bisa menjadi tenang menghadapi masalah ketika tidur di kamar pamanku yang telah pergi. Aku tidak tahu harus menyebut apa, apakah ia meninggal, apa dia hilang, apa dia pergi keluar negeri, di mana dia sekarang, nenek tidak pernah memberitahu. Tetapi cukup dengan mendengar riwayat hidupnya yang berjuang mati-matian mengikuti kegiatan kemahasiswaan di UI aku bisa memahami, bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup, dan orang lain juga mempunyai hak untuk menuntut kebenaran di balik hilangnya sosok pamanku yang tak pernah aku tahu seperti apa wajahnya.
Tiba-tiba aku merasa sesuatu mendekat. “Dea? Kamu belum tidur?” Aku menoleh melihat nenek yang mendongak meraih tanganku. Aku tersenyum sambil menggeleng. “Dea haus nenek, mau ambil air. Dea kaget deh kok nenek masih di sini belum tidur?” Aku berbohong. Tidak apa lebih baik begitu, kalau ia tahu aku mendekam di kamar mandi selama dua jam sambil menangis ia pasti akan memarahiku dengan memberi ceramah panjang 30 menit tentang pentingnya tidur. Nenek mengedikkan mata memintaku menarik kursi ke dekatnya dan duduk dihadapannya. Aku menurut dan menatap wajah kelabu nenek yang ditimpa cahaya lampu. Dia menatapku lama. Tiada kesedihan di matanya, hanya senyuman rapuh yang dia punya saat ini. Aku berdeham. “Nenek ayo tidur, besok kita kan kita akan kamisan. Nenek harus tidur cukup supaya bisa bersemangat un-”
“Nenek mau berbicara denganmu Dea.” kata nenek memotong ucaoanku.
Aku membalas lembut basuhan tangan nenek. “Iya, ada apa nek?”
“Besok cuman kita bertiga yang akan ke istana negara sayang.” Katanya. Aku tidak terkejut. Memang jarang keluarga kami bisa selalu berangkat bersama untuk kamisan. Seringnya aku, nenek dan ibu saja yang selalu jarang absen melalukan aksi kamisan.
“Oh, ayah sedang ada banyak kerja di kantor ya? Lagian ini juga belum akhir bulan kok. Gak papa nek.” jawabku.
“Bukan cuman ayahmu yang tidak bisa hadir, tapi Ibumu juga Dea..”
Aku mengernyit. “Ibu? Kenapa? Ibu sakit-”
Nenek cepat-cepat menarik tanganku yang gemetar sebab panik memikirkan kondisi Ibu. Apa dia di kamar paman itu karena sakit? Nenek mengelus lembut lagi tanganku. “Ibumu sedang patah hati lagi.” Aku tidak memperhatikan wajah tua nenek yang diperkirakan sudah tak lama lagi, telingaku jauh lebih awas yang mengakibatkan aku merasa sakit.
“Ayahmu meminta cerai tadi ketika mereka bertengkar-” Aku sudah ingin angkat bicara mengenai apa yang coba nenek sampaikan tetapi nenek tidak memberiku kesempatan itu. “Ini bukan kali pertama ayahmu meminta cerai, tetapi yang ini… dia sungguh-sungguh. Ini semua gara-gara permintaan nenek yang tidak masuk akal. Sepertinya dia tidak tahan lagi. Dia muntab dan menuntut cerai.” Ucapnya sendu menahan rasa bersalah teramat jelas. Dia terlihat kecewa karena tidak bisa membantu menyelamatkan hubungan ayah ibu yang kupikir sudah sempurna itu. Yang kupikir akan jadi mimpi nyata di mana ibu tidak perlu lagi menangis, tidak lagi ketakutan karena ada ayah yang selalu ada untuknya. Tapi itu berakhir di malam ini juga.
Ingin sekali aku melepaskan diri dari tangan nenek dan berbicara sebagai korban atas pertengkaran orang tua yang tiada habisnya aku terima. Tetapi lagi-lagi nenek menggeleng melarang aku berkomentar sebelum ia menginzinkan. “Jadi besok antar nenek ya ke istana, bersama adikmu juga ya.”
Adikku? Yang dua tahun dan belum bisa bicara dan berjalan itu? Di ajak ikut kamisan untuk pertama dan terakhir kalinya? Ibu… Ibu kenapa, Ibu di mana… kenapa jadi gini keadaannya.
Malam kamis yang dingin itu aku habiskan dengan tangisan.
***
Hari ini tanggal 17 Oktober, H-3 sebelum pelantikan presiden RI terbaru tahun periode 2024-2029. Kupikir dipertaruhan terakhir kami berjuang menuntut keadilan kami akan bersama-sama berdoa di depan meja makan, menanti waktu siang setelah sholat zuhur. Kemudian lanjut menggunakan mobil untuk ke istana bersama nenek, ayah, ibu dan adikku yang tidak sempurna. Meski dengan keadaan yang sulit aku selalu senang untuk membopong adikku ke sana kemari karena keterbatasan yang ada. Namun semuanya berbanding terbalik. Hanya aku, adikku dan nenek yang memutuskan untuk berjuang terakhir kalinya. Ibu tidak keluar kamar sejak tadi malam, dan kemungkinan besar baru akan kembali beraktivitas normal beberapa hari kemudian. Hati dan perasaanku ibu itu seperti kaca. Ia akan sangat terpuruk ketika hatinya hancur. Ia akan mendekam dan berdiam diri dalam kamar selama beberapa hari.
Nenek yang sudah tahu tabiat ibu menyuruhku untuk tidak terlalu ambil pusing terhadap kebiasaan buruk ibuku itu. Sehingga kini di cuaca yang buruk ini aku berdiri sambil menggendong adikku dan di sampingku ada nenek. Kami tidak sendiri. Kuperhatikan sejak siang aksi kamisan tanggal 17 Oktober ini jauh lebih ramai dan lebih membuat dadaku berdebar. Ada banyak orang partisipan aksi dari kalangan bawah hingga atas yang peduli pada kami. Selama aku ikut aksi tidak pernah aku kekurangan air dan makanan akibat berdiri terlalu lama di depan gedung, karena merasa satu nasib keloyalitasan di antara kami semua sangat kuat dan kokoh meski faktanya sebentar lagi usaha kami berjuang di depan gedung megah putih ini akan berakhir. Tidak pernah ada kata berhenti, bahkan ketika hujan semakin deras kami menjadi barisan yang semakin rapat. Saling menghangatkan dan menguatkan. Jadi… bagaimana bisa aku mengeluh pada nenek tentang rasa lapar dan lelah, yang wajar saja itu terjadi akibat aku puasa. Sebentar lagi berbuka… semua orang akan bergembira karena kami berjuang tidak hanya melawan orang yang tidak peduli pada keadilan, tetapi kami juga melawan hawa nafsu kami sendiri untuk tidak pernah membalas kejahatan dengan cara kekerasan, tapi dengan kesabaran.
“DEA!” Seorang dari depan melambai padaku. Tersenyum manis sambil berjalan mendekat ke arah kami. Nenek yang semenjak tadi diam akhirnya mulai bicara. “Itu Dimas kan?”
Aku tersenyum. Sangat senang pria itu datang. Dia membawakan banyak sekali makanan untuk kami berbuka puasa yang masih setengah jam lagi. “Kenapa kalian tidak berteduh?” Ketimbang menanyakan kabar aku dan nenek ia malah cerewet menyuruhku untuk berteduh. Dasar Dimas dia sangat menyebalkan. Aku cemburut. “Tuh nek, harusnya kita berteduh walau sudah pakai payung. Hujannya semakin deras nek.” Kataku pada nenek. Ia tidak menjawab. Dia kembali diam seperti tadi. Ya… aku salah bicara ya?
Wajah Dimas meringis, ia jadi merasa tidak enak pada nenekku. “Wah kalau nenek mau tetap di sini juga gak papa kok. Dea! Harusnya kamu jangan gitu dong.” Titahnya balik memarahiku. “Ih apaan sih Dim? Btw kamu udah selesai prakteknya, kok bisa sempat ke sini?”
“Aman, tadi dokter residen pediatrinya banyak banget dari kampus mana gak tahu, jadi perawat-perawat kaya aku boleh pulang dong. Asik kan?”
Dimas adalah perawat muda yang jadi asisten dokter spesialis pendiatri. Hobinya emang suka bermain bersama anak kecil jadi makanya itu sekarang tubuh adikku ini sudah berpindah tangan di tangannya. “Mantap si kecil Roy ini makin besar aja, berarti nanti siap jadi penyambut tamu buat nikahan mas Dimas sama mba Dea ya?” Katanya pada adikku itu.
“Ngaco kamu Dim.” Aku tertawa. Dia selalu bisa diandalkan untuk merawat adikku yang tumbuh kembangnya terlambat dari anak-anak lain. Berkat itulah secara tidak langsung Tuhan mempertemukan kami, ketika aku menemani Ibu dan adikku yang ternyata didiagnosis memiliki kecacatan pada otaknya. Dimas itulah yang menyambut kami pertama kali di ruang pemeriksaan karena dokternya sedang keluar sebentar. Ibuku yang tidak tahu menahu tentang penyakit memilih untuk menemani adikku, sehingga aku yang menggantikan Ibu untuk berkonsultasi pada Dimas. Ya, perbincangan itu memang terkenang menyakitkan karena aku harus menerima fakta adikku tidak sempurna. Tetapi karena itu aku jadi sering bertemu Dimas. Pria cerdas, baik hati yang jarang keluar rumah. Maka dari itu aku selalu menderita jika berjalan dengan Dimas yang kulitnya luar biasa putih karena dia seringnya di ruangan ber-AC yang tak tersentuh cahaya matahari.
“Curang kulit kamu putih banget, rahasianya apa sih? Pakai alkohol plus retinol ya?”
Dia terkekeh mendengarku yang mencampur-campurkan nama senyawa supaya kelihatan seperti orang kesehatan padahal kan kerjaanku itu asisten pengacara. Iya.. kaget kan. “Kenapa? Iri? Makanya jadi perawat dong sini, nanti kukasih stok cairan infus deh.”
Aku melongo bingung, niatku yang hendak sok tahu tentang obat jadi dibalas telak. “Apa hubungannya sama cairan infus?”
“Kamu gak tahu kalau cairan infus bisa bikin wajah glowing?” Tanya nya sambil menarik-naik alis tebalnya. Ah sial.
“Masa? Kalau gak salah itu isinya garam kan?”
Dia mengangguk. “Betul NaCl. Nanti deh aku kirim cairan infusnya biar kamu gak cemberut karena kalah glowing sama cowoknya. Hahaha!”
Aku ingin sekali meremukkan bahunya. “Apasih lo?” Kataku sewot.
Masih dengan tertawa jahil ia bicara. “Sekali-kali biar adil aku ikut acara kamisan deh biar jadi hitam tuh rasanya kaya apa..”
“Sialan!” Aku berteriak memukul dirinya yang semakin terkekeh-kekeh. Dia memohon ampun. “Sorry-sorry tapi kamu cakep kok, hitam manis.”
Aku termangu mendengar ucapannya. Sepertinya diriku ini sebentar lagi akan guling-guling mendengar pujian nya itu. “Aku paling suka dengan kamu yang berjuang tanpa kenal lelah di depan gedung yang dibangun dengan uang kita tapi kita gak pernah tuh kita masuk ke sana. Itu keren banget. Kamu mengagumkan sekali. Mau ya jadi istri aku?” Sambungnya yang membuat air mataku bocor karena terharu. Aku kemudian mengangguk, dan kami resmi bertunangan sebulan lalu.
***
Berlangsungnya pelantikan presiden dan wakil presiden yang…
“Nenek!” Aku menjerit menghambur ke depan televisi untuk mengurangi volumenya.
“Dea ada apa sih nenek sedang-”
“Nenek tuh yang lagi ngapain, kok nonton televisi yang isinya kaya gini. Matiin-matiin!” Aku berjalan mengambil remote dengan cepat untuk memindahkan channel. Sebelum sempat mengambil remote, Nenek berbicara. “Tidak apa-apa Dea…”
..dalam pemilihan umum tahun 2024. Satu menetapkan pasangan…
Siaran televisi berita yang tidak kusukai itu terus berjalan, menjadi latar suara di antara aku dan Nenek yang sudah kelelahan dengan keadaan. “Tapi nek, kalau bukan karena mereka… Ibu dan ayah gak akan pisah, kalau bukan karena mereka semua hal akan baik-baik saja… kenapa nenek malah nonton pelantikan presiden yang membuat nenek stress selama setahun ini??”
Pengucapan sumpah presiden Republik Indonesia….
“Dea, sini.” Nenek memerintah. Aku terpaksa mendekat. “Ingat yang pernah Nenek katakan padamu?”
“Yang waktu diaksi kamisan kemarin?”
“Iya yang waktu itu Dimas juga dengar. Coba katakan sama nenek apa bunyinya.”
Aku mengerti. Paham dan amat paham. Kucoba menarik nafas dan berbicara. “Kita sudah berjuang dan berusaha, kalau ternyata hasilnya gak sesuai dengan harapan kita itu tidak kenapa-kenapa. Kita boleh kecewa, boleh marah, tetapi ingat kita gak boleh berhenti berharap. Karena kekuatan manusia yang tidak bisa dijelaskan secara sains adalah berharap… walau terkadang hasilnya sudah jelas minus tetapi kita gak boleh berhenti untuk menyerah dan berdoa. Apalagi ini demi bangsa. Karena Allah itu tergantung dengan prasangka hambanya.” Tanpa banyak ambil nafas berulang aku berhasil menirukan petuah Nenek waktu aksi kamisan terakhir lalu itu.
Nenek mengangguk-angguk lalu menyuruhku menyingkir karena aku menghalangi pandangannya melihat televisi. “Lihat mereka sudah disumpah. Yang terjadi ya sudah… justru seharusnya sebagai warga negara yang baik kita sebaiknya berdoa. Berharap negeri ini berubah menjadi lebih baik.” Aku menahan rasa tangis. Bukan karena yang ada di televisi itu tetapi karena semua ucapan nenekku itu mengandung keikhlasan yang sangat tinggi, yang terbentuk selama puluhan tahun, yang ditempa beragam macam rasa cinta, sakit, rindu, marah, membentuk hatinya menjadi sekeras baja. Tepuk tangan meriah memenuhi acara yang ada di televisi. Sebanding dengan perasaanku yang dipenuhi gemuruh rasa kekecewaan, tetapi melihat nenek yang tersenyum melihat masa depan negeri sudah resmi dibebankan pada dua warga negara yang ada di televisi itu aku berusaha untuk tenang dan berbicara.
“Nek..Dea-”
“Dea, Nenek gak akan lama lagi.” Katanya lagi untuk beberapa kalinya aku tidak tahu.
Aku mencegah Nenek bicara lebih jauh tentang masalah hidupnya yang tinggal sebentar lagi. “Nek, dengar. Dea… bersama Dimas, nanti setelah ini. Kami akan menyanggupi permintaan Nenek.”
Nenek mengerjap tidak percaya diiringi dengan koor tepuk tangan yang diberikan pada presiden baru yang berasal dari televisi. Aku menahan diri tidak bicara sampai koor riuh itu berhenti terdengar. Setelah agak sedikit tenang aku kembali melanjutkan, “Aku ditemani Dimas akan pergi ke IKN. Kami siap melanjutkan aksi, kami siap untuk berjuang lebih lama lagi. Kami tidak akan kalah hanya karena jarak. Masa kami kalah sih dengan nenek yang sudah dua puluh tahun berjuang.”
“Dea…” Nenek bangkit dari kursi diiringi dengan suara tulang rapuhnya yang memilukan, dia merengkuh leherku dan memeluk erat. Dia menangis. Akhirnya aku melihat nenek menangis lagi. Aku senang kalau dia menangis, karena itu berarti dia sudah jujur dengar dirinya sendiri. Tangisannya keras. Ia mengguncang-guncang tubuhku histeris sehingga Ibuku yang mengurung diri selama 3 hari itu keluar dari kamar pamanku dan ikut memelukku. Kami bertiga menangis diliputi doa dan harapan sedangkan di televisi terdengar sang presiden baru memberikan sambutan perdana untuk lima tahun kepemimpinannya.

Komentar
Posting Komentar