Menjadi orang yang berdikari dalam bidang kesehatan adalah impian banyak orang. Terkadang di luar sana ada banyak yang iri dengan mereka yang akhirnya punya kesempatan mengembangkan passion di dunia kesehatan dan menjadi tenaga medis atau tenaga kesehatan. Di Indonesia sendiri tenaga medis atau tenaga kesehatan tercatat mereka adalah pekerja yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan atau AI . Semua orang tahu mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan akan mengabdikan dirinya kepada masyarakat, melayani, merawat, hingga memberi konsultasi, itu semua hal yang tidak akan mampu dilakukan secara sempurna oleh kecerdasan buatan. Sebab dibutuhkan yang namanya empati atau kepedulian untuk mengerti serta memahami perasaan manusia yang selalu berbeda tiap individunya. Yang dihadapi oleh mereka bukanlah sekedar seseorang yang mengeluh sakit, dan merasa di dalam tubuhnya ada sesutua yang tidak baik-baik saja. Lebih dari itu semua yang mereka akan temui adalah semacam orang dengan ragam profesi, tingkat sosial ekonomi, agama, ras, suku dan kepercayaan yang berbeda mengenai pandangan mereka tentang menjaga kesehatan. Para tenaga kesehatan dituntut untuk bisa memberikan pelayanan maksimal terhadap orang-orang yang di Indonesia ini yang masih minim edukasi tentang kesehatan. Itulah yang dialami oleh Apt., Agung Nurcahyanta, M.Farm. salah satu dosen prodi sarjana Farmasi di Universitas Bhamada Slawi saat dimintai wawancara terkait pengalamannya mengabdikan diri sebagai apoteker selama hamppir 20 tahun. Memikirkan untuk terjun di dalam dunia kesehatan tidak pernah sesekali terpikirkan olehnya. Namun saran orang tua yang membangun melihat bagaimana menjadi tenaga kesehatan adalah suatu pekerjaan yang amat mulia, beliau diarahkan untuk masuk ke dunia kesehatan dan menjadi apoteker. Setelah kuliah sarjana farmasi sudah ditempuh, ia melanjutkan mengambil profesi, lalu mengabdikan diri kepada masyarakat dan juga di dunia pendidkan alias sebagai dosen. Genap di tahun 2024 ini ia telah menjadi tenaga kesehatan selama 20 tahun sejak 2002 hingga sekarang memiliki banayak apotek yang ia bangun dengan hasil kerja kerasnya.
Tenaga kesehatan ada banyak jenisnya, seperti dokter, perawat, dokter gigi, psikolog, apoteker, dll. Bagi dosen farmasi Universitas Bhamada Slawi itu apoteker adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan berfokus pada apotek sebagai tempat atau wadah para apoteker untuk memberikan pelayanan setelah mereka mengambil sarjana farmasi hingga ke lanjut ke jenjang profesi. Keuntungan yang didapatkan menjadi apoteker ketimbang dengan tenaga medis lainnya adalah apoteker itu merujuk fokus pada ilmu khusus bernama obat. Sebuah zat asing berupa bahan-bahan kimia yang akan dimasukan ke dalam tubuh manuia. Tidak sembarangan orang mampu menciptakan sebuah sediaan asing yang tidak dikenali tubuh sama sekali, yang mengharuskan mereka memperhitungkan dengan matang kapan obat itu larut dan berefek baik sesuai dengan masalah atau penyakit yang diderita pasien. Mempelajari obat butuh perjuangan besar. Untuk sekedar membuatnya para apoteker harus mempelajari ilmu yang setara dengan para dokter yaitu patologi. Sebab tujuan dasar pembuatan obat adalah untuk menyembuhkan penyakit manusia, oleh karena itu mereka dituntut harus tahu dan mempelajari mengapa penyakit-penyakit itu bisa muncul, disebabkan oleh apa, dan kemungkinan obat seperti apa yang bisa diberikan, hingga sediaan apa yang sesuai dengan si penderita.
Memiliki apotek sendiri adalah impian besar para apoteker. Tidak bisa disangkal para tenaga kesehatan kefarmasian atau apoteker sudah mengiming-imingkan bisa membuat apotek sendiri ketika mereka lulus mendapat gelar profesi. Itu mungkin yang dialami pak Agung setelah sekian lama berhasil memilki sendiri banyak apotek. Pelayanan kefaramasian memang tidak hanya terbatas pada apotek saja, ada juga di puskesmas, instalasi farmasi di rumas sakit, posyandu, dan toko obat. Namun suatu tempat pelayanan kefarmasiaan terbaik yang dikenal masyarakat setempat adalah apotek. Tempat itu berkembang sangat banyak di masyarakat. Otomatis menjadi salah satu empat andalan orang-orang untuk menyembuhkan diri mereka dengan membeli obat di apotek. Bagi pak Agung dari apotek ia mempelajari ada sebuah realita di masyarakat bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang tidak berkecukupan memiliki uang atau berada dalam ekonomi yang sulit untuk memeriksakan diri ke dokter, tetapi mereka ingin sekali sembuh dari penyakit. Maka dari itu ia meimilih mengelola apotek dengan segmen pasar menengah ke bawah. Bagi orang yang hanya mimikirkan salary mungkin keputusan pak Agung adalah kesalahan tapi menurut beliau sendiri yang sudah disumpah menjadi apoteker, ia ingin memberikan kesan yang baik bagi para pembeli yang datang ke apotek. Ketika mereka datang ke apotek dan berkonsultasi kepada apoteker tentang tidak hanya penyakit tetapi juga bisa solusi obat apa yang ia berikan sesuai dengan dana yang dimiliki oleh pelanggan ia merasa bahagia, karena tidak semua orang mampu untuk membeli walau itu hanya sekedar obat yang jelas akan mampu menyembuhkan penyakit mereka. Mungkin itulah yang membedakan profesi apoteker dan profesi tenaga kesehatan lainnya. Kebahagian yang bisa diperoleh dari itu adalah saat solusi yang diberikannya ternyata mampu alias manjur menyembuhkan penyakit masyarakat, sehingga secara tidak sadar akan timbul sebuah kepercayaan kepada apoteker bahwa pelayanan kesehatannya berhasil dan memuaskan. Siapa yang tidak akan senang jika orang mempercayai kita akan kemampuan dalam memberikan pelayanan yang terbaik?
Ketika ditanya apa makna pengabdian tenaga kesehatan baginya, pak Agung berkata. “Makna pengabdian kesehatan itu selaras dengan sumpah profesi. Setelah kita lulus itu kan kita disumpah akan mengabdikan hidup kita untuk di dunia kemanusiaan.” Menurutnya sumpah profesi yang ia ucapkan saat kelulusan sudah mengakar di hatinya, bahwa seorang apoteker tidak ada tendensi yang lain bahwa mereka akan mengabdikan diri di masyarakat. Ia pun menjelaskan mengapa sumpah profesi menjadi alasan kuat menjadikan prinsip atau nilai yang ia pegang teguh, “Ketika kita melakukan pekerjaan dengan mengingat sumpah kita itu semua akan berjalan lebih mudah dan lebih gampang.” Tuturnya dengan kepuasan.
Walau sudah ada titik di mana ia memaknai pekerjaan dengan menjalaninya sambil memegang teguh sumpah profesi yang sudah ia ucapkan, tetap akan selelu ada tantangan yang harus dihadap oleh para apoteker. Apalagi di zaman yang serba digital ini mereka wajib dituntut mengikuti perkembangannya meski terkadang itu bertentangan dengan hati nurani. Contohnya yang paling bisa diketahui adalah detik ini juga makin marak video-video edukasi ke masyarakat yang masih kurang tahu akan obat. Pembelajaran sekilas mengenai obat yang ditemukan di laman online terkadang memicu keresahan karena tidak semua yang disampaikan oleh oknum-oknum itu benar atau valid 100%. Akhirnya karena merasa sudah cukup pintar mempelajari tentang obat, mereka yang datang ke apotek menjadi pemaksa alias suka menentukan sendiri obat yang mereka mau padahal mungkin obat yang mereka inginkan itu tidak sesuai dengan kondisi penyakit atau seberapa parah penyakit yang diderita, karena semua orang pasti ingin yang namanya cepat-cepat sembuh. “… Saya tidak menyebutkan edukasi yang diberikan mereka itu menyesatkan, tetapi terkadang justru ada yang tidak pas gitu. Dan itu yang kadang jadi tantangan untuk kita para apoteker.”
Memberikan edukasi mengenai obat-obatan kepada masyakarat melalui media sosial adalah suatu sarana baru yang berkembang di dunia digital hingga sekarang. Akan tetapi kekurangannya pembelajaran yang diberikan seringnya terlalu ringkas atau cepat memutuskan obat mana yang harus diminum oleh mereka, hal itu akan menyebabkan orang menjadi ngotot dan merasa bahwa pilihan mereka lah yang benar. Namun setelah ditelesuri lagi berdasarkan ilmu kefarmasian yang benar ada obat lagi yang lebih pas dan tepat untuk dikonsumsi si pembeli itu. Pada prinsip pak Agung, dalam memberikan obat kepada pasien ia memilihkan obat yang indikasi paling ringan terlebih dahulu, tidak langsung kemudian memberikan obat dengan golongan lebih tinggi dari pada seharusnya. Contohnya saja jika pasien merasa sakit kepala atau migran, kemungkinan obat yang diberikan adalah obat analgetik ringan seperti paracetamol atau ibu profen, kecuali jika sakit kepalanya semakin parah maka bisa diberikan obat analgetik NSAID seperti asetosal, asam mefenamat dan lain lain.
Pemberian obat tolak ukurnya bisa ditentukan dari semakin tinggi rasa sakit dan keparahan yang terjadi maka semakin keras jenis obat yang diberikan. Misalnya penyakit kanker yang pasti diberikan analgetik golongan steroid atau sejenis narkotika. Sebagai apoteker jelas ia tidak menginginkan masyarakat termakan atau terhasut dengan ajakan berkedok edukasi yang masih belum pas, yang nantinya akan merugikan masyarakat itu sendiri. Jadi solusi yang bisa diberikan adalah komunikasi lebih erat atau konseling dengan pasien terkait keluhan apa yang sedang dirasakan pasien atau kalau dalam istilah kefarmasian itu adalah swamedikasi. Dengan melakukan swamedikasi apoteker bisa menggali riwayat penyakit yang diderita pasien dan bisa menanyakan alasan mengapa seseorang menginkan sekali obat yang dia mau. Swamedikasi itu akan membuat apoteker tahu pola hidupnya atau kebiasaan para pasiennya. Dari itu apoteker bisa melihat dari dua sisi dan mampu menjelaskan kepada pasien mengapa ia seharusnya mendapat obat yang lain bukan obat yang pelanggan itu inginkan.
Selama 20 tahun ia mengabdikan diri menjadi tenaga kesehatan kefarmasian ada suatu kesan atau keberhasilan yang memuaskan hatinya, itu adalah saat ia bisa memiliki apotek yang merupakan impian mahasiswa sarjana farmasi atau yang tengah menjalani studi profesi apoteker. Kesannya mempunyai apotek sendiri berbeda dengan bekerja di apotek orang lain, karena tidak lagi terikat dengan ragam ketentuan yang mengatur. Dengan memiliki apotek sendiri beliau merasa lebih bisa leluasa dalam membantu masyarakat. Contohnya seperti ia membuat apotek yang berada dalam pasar menengah ke bawah. Dari itu tidak jarang ia melakukan banyak pelayanan yang mungkin bisa menggratiskannya pada pasien, karena dengan itu ia bisa membantu kemudahan masyarakat yang tidak punya cukup uang untuk berobat.
Sebagai seorang apoteker yang merangkap sebagai dosen, yang ia hadapi selama kesehariannya tidak hanya para pelanggannya di apotek saja tetapi juga para mahasiswa sarjana farmasi. Dengan banyak pengalaman yang ia tempuh setelah perjuangan yang tak instan ia memberikan saran dan harapan. Menurutnya bangku perkulihan seharusnya mampu untuk mendewasaan para mahasiswa dan mengubah pola pikir. Keduanya mampu digunakan sebagai dasar untuk mencari banyak pengalaman dan belajar di kehidupan yang sebenarnya. Di sarannya dia menegaskan. “Segera lulus dari S1 Farmasi segerakan selesaikan profesi apotekernya. Karena dengan menyelesaikan profesi apoteker maka akan lebih banyak peluang. Kemudian juga jangan takut untuk praktek apoteker. Karena banyak sekali lulusan-lulusan baru, kita tahu fenomena sekarang, mereka banyak yang menginginkan salary yang besar tetapi tidak ada kemampuan untuk konsultasi, kemampuan keberanian untuk ketemu pasien. Ketika sudah lulus cari pengalaman yang sebanyak-banyaknya jangan berpikir salary nya dulu.” Untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman itu memang tidak mudah, karena harus dimulai sejak nol. Apalagi terkadang mahasiswa yang baru lulus sering sesekali tidak tahan godaan untuk buru-buru mendapatkan hasil yang cepat. Selain itu menjadi tenaga kesehatan yang profesional haruslah mempunyai mental baja yang nantinya akan digunakan untuk mengabdikan diri mereka kepada masyarakat sesuai dengan sumpah profesi yang harus siap pada kondisi apapun dan konsekuensi yang ada.
Penulis : Virga Cahya Sepyani
Komentar
Posting Komentar