Kembali Pulang Tuk Menghilang
Jalanan kota dan desa sekarang tiada bedanya. Kota yang diketahui semua orang adalah pusat pemerintahan, metropolitan, rich, glamor, dan mewah harus menarik diri karena malu jika jalan raya nya dibanding-bandingkan dengan jalanan desa yang banyak kobangan seakan sengaja di gali lubang. Karena kota tidak jauh beda lagi dengan desa. Yah… semua kembali kepada siapa yang memimpin. Anwar tak lagi bisa percaya pada kota yang telah ia singgahi selama setengah hidupnya hingga berumur 25 tahun. Dia bertolak pulang ke kampung halamannya yang jaraknya amat jauh. Ia sudah tidak memiliki asa untuk terus melanjutkan hidup di perantauan. Semenjak 2 bulan yang lalu kedua orang tuanya yang telah sepuh berpulang secara berurutan dalam tempo hari yang tak begitu jauh. Dia pikir hubungan dengan rumah masa kecilnya selesai. Orang tuanya telah tiada, dia tidak ingin kembali lagi ke kampung karena dia merasa tugasnya sebagai anak telah selesai. Setiap lebaran tiap tahun dia selalu pulang meski merasa ogah, karena kewajiban sebagai anak yang harus berbakti dia membiasakan diri pulang kampung tiap tahun sedikitnya 1 tahun sekali. Sayangnya asumsinya salah besar, kota metropolitan yang menjadi pegangan hidupnya dan teman-temannya telah merobohkan semangatnya. PHK sedang marak-maraknya tahun ini, dia memang bukan bekerja di bidang perkantoran. Dia tidak memiliki keahlian kecuali fakta bahwa dia adalah laki-laki yang harus bisa apa saja, menerima segala pekerjaan tanpa peduli hasil yang terpenting bisa makan untuk hari ini hingga esoknya.
Tempat tinggal mendiang orang tuanya tak lama lagi akan dia tempati. Pagi-pagi sekali pria kumal yang memakai jaket hitam tanpa tas dan hanya beralaskan sandal jepit pergi ke Cirebon dia segera memesan tiket bus yang bertujuan ke kampungnya hari itu. Tak banyak uang yang tersisa dari hasil kompensasinya karena dia di PHK secara massal bersama 100 kawan kerjanya. Sebelum uang simpanannya menguap dan bapak gendut pemilik kontrakkannya membantingnya keluar, lebih baik dia segera kabur pulang ke rumah. Tak peduli tentang siapa-siapa, yang paling ia perlukan adalah tempat tinggal. Dan rumah peninggalan orang tuanya yang adalah satu-satunya yang bisa dia tempati karena tidak ada lagi ahli waris selainnya.
Sesampainya di terminal kakinya langsung terbenam di dalam kubangan jalanan yang berlubang. Tepat saat itu gerimis tiba. Musim penghujan sudah dimulai 3 minggu yang lalu. Baik kota atau desa, tak bisa dihindari hal semacam itu. Jadilah dia membayar ongkos perjalanan dan membeli sebotol air mineral dari pedagang kaki lima.
“Air mineral mas,” Katanya tepat di depan pria penjual aneka ragam makan dan minuman ringan. Pria itu tengah berjongkok, alhasil dia harus menengadah untuk melihat siapa pembeli berbaju kumal sama sepertinya.
“Yang dingin 1?” Balas penjual itu menawarkan.
“Yang dingin 1.” Jawab pemuda itu menyetujui.
Pria itu segera membuka sebuah balok yang terbuat dari gabus. Di dalamnya ada puluhan hingga ratusan bongkahan es yang menjaga supaya belasan kemasan minuman yang ada di dalam box itu tetap dingin. Diambil nya 1 botol air mineral. Uap dingin terlihat begitu botol itu sampai di tangan sang pemuda. Dia segera memberikan uang terakhirnya yang tersisa di saku celananya. “Ini mas…” Ucapnya singkat lalu berbalik sambil membuka tutupnya.
Dia berjalan menjauh dari pria penjual minuman itu. Matanya mengerling. Tatapannya kosong. Dia bingung benarkah ia harus kembali ke rumah orang tua nya yang 2 bulan yang lalu tak ingin dia tinggali. Sambil berkeliling mencari tukang ojek dia menyadari uangnya habis. Masih perlu dibutuhkan belasan kilometer lagi untuk menuju kediamannya. Dalam kebingungan apakah dia harus berjalan kaki atau tidak, terdengar sayup-sayup memanggil dirinya.
“Mas…Mas…!”
Ada banyak laki-laki di terminal ini. Dan mayoritas pemuda, mungkin bukan dia yang dipanggil Mas itu. Akan tetapi terlihat lambaian tangan pria pedagang air minuman mendekati nya. Diliriknya kanan-kiri. Dia pikir dia salah dengar dan salah sangka jika pria penjual minuman itu bermaksud memanggilnya. Namun semakin lama dia makin mendekat. Suasana terminal tidak terlalu ramai. Bus-bus berbadan besar telah mengangkut kembali penumpang menuju kota. Satu-satunya orang yang tengah berdiri di tengah gerimis hujan hanyalah dia, sang pria tak punya asa dari kota. Lapangan tempat bus terpakir sudah lebih lenggang dibanding sebelumnya, tak banyak orang berkerumun di dekatnya. Dan pria penjual minuman itu jelas menghampirinya, karena untuk apa dia berlari-lari kecil mendekati tengah-tengah lapangan jika bukan untuk menemuinya.
“Mas yang tadi bayar air mineral di saya 20 ribu kan?” Ucapnya gagap mirip nafasnya yang kehabisan akibat berlari menyusul pemuda itu.
Pemuda tersebut tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu, dia menunggu beberapa saat sampai pria itu dapat menarik nafas dengan normal bukan tersengal-sengal.
“Iya, kenapa ya-”
Tak sempat bicara panjang pria penjual minuman itu menarik tangan sang pemuda lantas dengan kekuatan yang mampu dia hasilkan, dia jejalkan uang Rp 20.000 yang diberikan si pemuda padanya. “Uangnya kelebihan, harga 1 botol mineral cuman Rp 5.000 mas. Jangan bikin saya goblok dan korupsi dong cuman gara-gara ini.” Dia menekankan kata ini sambil meremas-remas tangan pemuda yang mencoba melepaskan diri dari genggamannya.
“Mas jangan gitu dong, kalau mau berbuat baik jangan malah mempersulit diri!” Pria itu terus mencerocos. Pemuda itu mendesah.
“Terus… saya harus apa pak?” Katanya pada akhirnya setelah pria paruh baya itu memberinya siraman rohani kalau ingin berbuat kebaikan jangan sampai membuat diri sendiri menderita.
“Saya pikir air mineral satu-satunya barang yang perlu saya beli, saya benar-benar lupa kalau harus perlu bayar ongkos untuk sampai rumah.” Katanya menjelaskan. Pria itu kemudian tenang, ia sempat khawatir kalau maksud pemuda itu adalah dengan sengaja membayarnya lebih. Sepertinya dia memiliki pengalaman buruk dengan pembeli yang suka cari gara-gara di terminal.
“Ambil saja mas, saya jalan kaki saja. Ikhlas saya,” ucapannya mungkin demikian, bermaksud baik dan menenangkan sang bapak tapi nyatanya dia risau juga harus berjalan beberapa km lagi. Mana cuman ditemani air mineral yang tinggal separuh, lagi. Katanya dalam hati. Dia malu kalau harus meminta kembalian. Suruh siapa dia lupa.
“Serius mas??” Katanya senang bukan kepalang. Pemuda di hadapannya terheran-heran. Kenapa sang bapak bisa sesenang itu mendapat rezeki lebih 15 ribu, seolah baru saja mendapat uang 1 juta. Dia hanya bisa membalas anggukan, tak ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan bapak yang aneh tersebut.
“Ya sudah saya mau kembali ke tempat jualan saya, hati-hati ya mas. Makasih banyak loh atas kebaikannya, dengan begini saya tidak perlu pusing harus apa anak dan istri saya makan hari ini.” Katanya tertunduk sambil mengusap-usap uang 20 ribu dengan perasaan haru biru.
Pemuda yang hendak menjauh itu tertegun lama. Setalah ia sadar, di sekelilingnya telah sepi. Sang bapak telah pergi. Bahkan dari jarak pandangannya yang cukup jelas, tidak ada lagi bapak itu di mana-mana. Apa dia sudah pergi? Ataukah dia malaikat yang dikirim tuhan untuk menegurnya. Hal demikian membuat ia lekas sadar lalu beranjak pergi berjalan kaki menuju rumah mendiang orang tuanya yang dulu ketika secara sah diserahkan padanya dia menolak mentah-mentah. Sekarang hanya tempat yang pernah dia buang itu yang bersedia menerima orang pengangguran seperti Anwar.
…
Kampung halamannya tidak banyak berubah. Rumah-rumah nya masih sama, pohon-pohon masih lebat, hanya ada sedikit rimpang yang terlihat habis dibabat seperti pohon dengan ranting-ranting panjang yang nampak membahayakan kalau kapan saja bisa saja menimpa pejalan kaki atau pengendara. Desanya merupakah salah satu desa terluas di kecamatannya, akan tetapi tak terlalu banyak perumahan yang dibangun. Rumah-rumahnya masih kaya akan tradisionalitas. Tak jarang masih banyak rumah lama peninggalan warisan yang panjang dan ada halaman terbuka di tengah-tengah rumah. Kediamannya sendiri mudah dikenali, rumah bercat merah pudar tanpa pagar sama sekali meski rumah-rumah di depan samping kanan kirinya banyak yang merombaknya menjadi rumah agak modern dengan pagar. Tak jarang halaman depan gayanya mirip perumahan yang ada di kota-kota besar meski di dalamnya khas tradisionalismenya belum pudar sepenuhnya. Alhasil karena rumahnya tidak memiliki pagar sendiri rumahnya sering sekali bentrok dengan tetangganya tentang pembagian wilayah kekuasaan. Masalah sepele yang masih mengakar kuat di daerah dengan lahan luas tapi sempit. Mendekati rumah beberapa pasang mata menatapnya heran, tapi pemuda itu sudah menduga akan banyak pasang mata yang akan menatapnya demikian. Berita tentang penolakannya terhadap rumah warisan itu menyebar ke penjuru desa. Beberapa minggu setelah berita itu menyebar rumah itu dijadikan sasaran bagi orang kaya yang ingin membelinya. Tapi itu tidak mungkin bisa, karena rumah itu jelas-jelas telah diberikan padda putra tunggalnya. Kecuali jika pemuda itu sendiri yang menawarkan rumah itu pada para pembeli. Sayangnya karena tanpa pikir panjang setelah pembagian hak waris itu dia langsung pergi ke kota, jadi tak ada yang tahu bagaimana cara menghubungi sang putra. Sehinggalah rumah itu kosong tak berhuni selama 2 bulan. Kemudian semakin banyaklah orang berseliweran menjumpainya sambil berbisik-bisik sinis. Menggumamkan ketidaksukaannya. “Idih! nagapain anak almarhum pak Tejo pulang kampung.” Sindir seorang ibu tanpa segan begitu pemuda itu melewatinya. Di sebelah sang ibu ada lebih banyak ibu-ibu lain yang menanggapi tak kalah pedas.
“Pengin liat tuh wajah songongnya yang sombong minta ampun menolak harta waris.” Sahutnya disambut dengan cekikikan maut ala ibu-ibu jaman sekarang.
“Biasa lah pemuda zaman sekarang, merasa sudah kerja, punya penghasilan sendiri sampai lupa kalau dia punya harta yang dibela-belain orang tuanya untuk dia.” Ibu yang memiliki bibir tebal tak mau kalah menanggapi. “Lihat bajunya kumal, kalau udah berpenghasilan sih harusnya balik tuh naik mobil. Kok ini jalan kaki, macam gelandangan saja!”
Pemuda itu terus melangkah, tak mau menanggapi. Sebelum dia merantau kesehariannya tak pernah jenuh mendengarkan para ibu-ibu yang berputus asa melihat dirinya tumbuh remaja. Dirinya sejak kecil memang nakal, tak sedikit semua orang menyumpahinya anak bebal yang tak punya mas depan. Dia merantau bukan karena lelah mendengar kritikan pedas terhadap dirinya. Sebetulnya dia ingin menghilang saja, berharap tak pernah ada. Dia merasa orang tuanya akan lebih bahagia kalau tak memiliki putra gagal sepertinya. Manusia pemalas sepertinya memang pantas dicap demikian. Akan tetapi dia tidak tega kalau kedua orang tuanya yang titisan malaikat selalu pasang badan di depannya dan mengatakan sesuatu yang positif.
“Tolong mengerti ibu-bapak putra saya satu-satunya baru saja remaja, wajarlah jika dia sedikit bandel. Saya yakin masa depannya akan lebih baik dari pada sekarang.” Seru ibu nya suatu hari ketika pemuda itu melakukan hal sembrono yaitu mengajak teman-teman sekampungnya ikut tawuran dengan anak sekolah lain. Sewaktu itu tawuran antara sekolah adalah hal biasa. Dan setelah ditilik lebih dalam, oknum yang selalu mencari-cari masalah supaya terlibat tawuran salah satunya adalah si pemuda itu.
Ayahnya yang lemah lembut berusaha sebisa mungkin menenangkan para warga yang matanya berkilat-kilat ingin main hakim sendiri. Mereka murka sekali mengetahui biang kerok tawuran itu salah satu pemuda di kampung mereka, yang namanya terkenal karena orang tuanya adalah orang yang paling murah hari dan lemah lembut. Mulanya mereka tak percaya, akan tetapi tabiat buruk pemuda itu memang sudah kelihatan sewaktu SD. Mudah saja mereka memastikan berita itu dan segera menggebrek rumah kediamannya. Langsung saja seketika orang tuanya pasang badan dan membelanya.
Langkahnya berbalik masuk ke dalam rumah yang sunyi. Halaman rumah sangat gersang, sengaja dibuat habis pohon-pohon yang pernah sempat tumbuh tinggi semakin liar mencapai atap tetangga yang sayangnya terlalu rese untuk diajak kompromi, sehingga diputuskanlah semua pohon di halaman dibabat habis. Tanahnya pun ikut kering rumput-rumput pun tak mau tumbuh. Akan tetapi berbanding terbalik dengan halaman belakang rumahnya alias yang kerap dipanggil oleh orang-orang tua dulu.. yaitu pekarangan.
Satu minggu telah berlalu, tepat dua bulan setelah orang tuanya meninggal. Hujan tak berhenti-henti, rumah yang mulanya baik-baik saja itu menjadi kumuh tak terawat. Penghuninya tidak mempedulikan kondisi rumah bagian depan yang masih tergenang banyak air bekas hujan. Genteng-genteng yang bocor dibiarkan, tak dia hiraukan meski harus tidur basah kuyup karena kebanjiran. Ia sungguh tak peduli pada apapun, selama seminggu itu tubuhnya lebih tidak terawat tak kalah menyedihkan seperti rumahnya. Seminggu penuh yang dia lakukan hanya meringkuk di kamar, jika sewaktu-waktu haus dia akan mengambil air hujan yang dia tampung setelah dia saring dengan kain bekas baju peninggalan orang tuanya. Untuk makan? Dia berhasil tidak makan selama itu.
Bagaimana dengan tetangga-tetangganya yang berada di samping rumahnya? Mereka bukannya sama sekali tidak memiliki belas kasihan terhadap pemuda malang yang tidak punya apa-apa dari perantauannya. Itu disebabkan karena pekarangannya yang telah ditumbuhi beragam tanaman yang menjulang tinggi dan parahnya didominasi oleh ilalang tinggi yang sangat-sangat menjadi musuh abadi oleh setiap orang yang memiliki pekarangan. Selama 2 bulan pekarangan itu dibiarkan begitu saja, tidak ada yang mencabuti rumput sebelum tumbuh semakin liar. Musim hujan yang datang bertubi-tubu tiap harinya. Satu hari kedatangannya pihak-pihak orang yang tak setuju akan kehadiran sang pemuda koar-koar menyinggung pekarangan rumahnya yang sudah mulai berubah menjadi hutan kecil, yang tidak mungkin tidak menjalar ke halaman tetangga-tetangganya yang lain. Protes dikecam, akan tetapi pemuda yang tak punya harapan serta niat hidup itu sangat pemalas. Ia tidak punya tenaga untuk melakukan pekerjaan buruh tani yang membuatnya terpaksa berbungkuk-bungkuk dan duduk berjam-jam. Meski begitu dia bisa saja menyewa orang lain yang pekerjaannya adalah membersihkan pekarangan yang mulai tak terawat, sayangnya dia tidak punya uang sepeserpun. Dia tidak bisa mengharapkan pekerjaan di sebuah desa yang gajinya jauh di bawah UMR. Satu-satunya alasan mengapa dia kembali, ya tentu saja karena dia ingin pulang… ke tempat yang lebih jauh.
Penulis : Virga Cahya Sepyani
Komentar
Posting Komentar